Sejarah Kepulauan Seribu

Sejarah Kepulauan Seribu dimulai saat kota Batavia dijadikan sebagai benteng pertahanan oleh VOC dan kerajaan Belanda. Karena pada tahun 1610 pulau Onrust telah menjadi basis maritim untuk Batavia.

Setelah VOC diberikan kebebaskan untuk mengontrol perdagangan di Banten tahun 1610, Belanda mendapatkan persetujuan dari Pangeran Jayakarta untuk membuat dermaga di salah satu pulau di Teluk Jakarta sebagai tempat untuk memperbaiki dan mempersiapkan Kapal untuk berlayar ke Asia, khususnya Asia Tenggara. Pulau yang diberikan oleh Pangeran Jayakarta kepada VOC adalah Pulau Onrust.


Pulau Onrust

Pada tahun 1615 VOC dibuat sebuah galangan kapal dan benteng kecil di pulau itu, yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen yang bertujuan untuk melindungi perdagangan dari kerajaan banten dan Inggris. VOC membangun benteng yang berbentuk persegi panjang kecil dengan dua bastio.

Pada 1795, posisi Belanda di Batavia goyah karena perang di Eropa, dan keadaan menjadi lebih mengerikan di tahun 1800 pad saat skuadron maritim Inggris di bawah pimpinan Kapten Henry Lidgbird Bola HMS Daedalus. Daedalus, HMS Sybille, HMS Centurion dan HMS Braave memasuki wilayah Batavia. Mereka menyita lima kapal Belanda. Pulau Onrust diserang oleh Inggris dan pada akhirnya dihancurkan.

Setelah serangan Inggris, Belanda memperbaikinya kembali, dan selesai pada tahun 1806. Serangan Inggris kedua, dipimpin oleh Admiral Edward Pellew, sekali lagi mengancurkan benteng. Selanjutnya Inggris memperbaiki pulau Onrust sampai mereka meninggalkan Indonesia pada Tahun 1816.

Pulau Onnrust kembali difungsikan pada tahun 1827 pada masa Gubernur Jenderal Van Der Capellen Gabaron dan keadaan Pulau berjalan normal lagi sampai tahun 1848. Pada tahun 1856 dibuat sebuah galangan kapal untuk produksi kapal. Namun, Tahun 1883 dibangun Pelabuhan Tanjung Priok yang menyebabkan penurunan aktivitas di pulau Onrust.

Pada Tahun 1911-1933, pulau Onrust berubah menjadi tempat karantina jamaah Haji yang pulang dari tanah suci. Barak yang berjumlah 35 unit untuk menampung sekitar 100 jamaah.

Setelah kemerdekaan Indonesia, pulau ini berubah menjadi rumah sakit lepra di bawah Departemen Kesehatan Indonesia, sampai tahun 1960. kemudian dipindahkan ke Pos VII di Tanjung Priok.

Pada tahun 1972 , Gubernur Ali Sadikin menyatakan Pulau Onrust merupakan situs yang dilindungi. Pada tahun 2002 Pulau Onrust dan tiga tetangganya - pulau Cipir, Kelor dan Bidadari – dibuat sebagai taman arkeologi untuk menjaga kelestarian peninggalan VOC tersebut.